Pengolahan Limbah Baterai EV Jadi Peluang Bisnis Baru Menurut Moeldoko
Table of content:
Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia, Moeldoko, menyoroti pentingnya pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik sebagai peluang bisnis yang potensial di Indonesia. Menurutnya, baterai kendaraan listrik memiliki masa pakai hingga delapan tahun, setelah itu dapat dijadikan sumber ekonomi baru melalui daur ulang atau pengalihan fungsi.
Di acara EVolution Indonesia Forum, Moeldoko menjelaskan bahwa ada dua upaya kunci dalam pengelolaan baterai tersebut, yaitu mendaur ulang dan mengalihfungsikan baterai yang sudah tidak lagi digunakan. Dengan memanfaatkan peluang ini, Indonesia dapat menciptakan lapangan kerja baru secara signifikan.
Pada kesempatan ini, Moeldoko menekankan bahwa baterai yang sudah habis masa pakainya perlu melalui proses pengecekan. Jika masih ada sel yang dapat diperbaiki, mereka bisa dimanfaatkan kembali, sementara yang tidak layak akan diproses untuk daur ulang.
Peluang Bisnis dari Limbah Baterai Kendaraan Listrik
Moeldoko menyatakan bahwa pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik dapat menciptakan industri baru. Persiapan untuk pengelolaan ini sudah dilakukan sejak dua tahun lalu melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.
Ia memaparkan bahwa kolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Sebelas Maret bertujuan untuk melakukan penelitian lebih mendalam. Melalui riset ini, mereka dapat menemukan cara yang efektif dalam mengelola limbah baterai.
Untuk memperdalam pemahaman tentang pengelolaan limbah, Moeldoko juga melakukan benchmarking ke negara-negara yang lebih maju, seperti China. Temuan dari studi internasional tersebut membuahkan hasil yang positif bagi pengelolaan limbah di Tanah Air.
Peluang Kerja dan Manfaat Ekonomi Sirkular
Moeldoko memproyeksi bahwa optimasi pengelolaan baterai kendaraan listrik di Indonesia dari tahun 2020 hingga 2025 dapat menyerap hingga 40 ribu tenaga kerja. Sebuah peluang yang menjanjikan bagi pengembangan ekonomi lokal.
Ia menegaskan bahwa dalam skema ekonomi sirkular, baterai yang telah dialihfungsikan dapat menjadi sistem penyimpanan energi untuk panel surya. Dengan begitu, keberlanjutan ekonomi dapat terlaksana secara optimal.
Penggunaan baterai bekas dalam aplikasi yang berisiko rendah, seperti pengisian daya alat elektronik, juga akan semakin memperkuat posisi ekonomi sirkular ini. Dari sini, jelas bahwa pemanfaatan sumber daya akan berlangsung lebih efisien.
Tantangan dalam Pengelolaan Limbah Baterai
Walaupun peluangnya besar, Moeldoko juga mengingatkan bahwa keberhasilan pengelolaan limbah ini sangat bergantung pada dukungan regulasi yang kuat. Tanpa adanya aturan yang jelas, industri tersebut mungkin tidak dapat berkembang dengan baik.
Ia menekankan bahwa diperlukan regulasi yang cepat untuk mengatur pengelolaan limbah baterai ini. Dengan dukungan dari pemerintah, industri akan memiliki landasan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Pengembangan regulasi ini juga penting untuk memastikan bahwa proses pengelolaan dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip lingkungan yang baik. Hal ini akan menjamin bahwa keuntungan ekonomi tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







