Taktik Perusahaan Agar Karyawan Resign Tanpa Pesangon Bukan PHK
Table of content:
Ketika dunia kerja menghadapi beragam tantangan, praktik baru yang dikenal dengan istilah quiet cutting mulai muncul dan menjadi perhatian. Fenomena ini menjadikan perusahaan sebagai penggerak untuk mendorong karyawannya keluar tanpa perlunya membayar pesangon yang biasanya dibutuhkan saat pemutusan hubungan kerja.
Berbagai laporan menunjukkan bahwa banyak karyawan yang mengalaminya, dengan sekitar 77% menyatakan menemukan praktik ini di tempat kerja mereka. Metode ini sering kali menggunakan tekanan psikologis untuk mendorong individu memilih resign, daripada harus melakukan pemutusan hubungan kerja secara langsung.
Pengertian dan Konsep Dasar Quiet Cutting dalam Lingkungan Kerja
Quiet cutting merupakan strategi yang digunakan oleh perusahaan pada periode restrukturisasi. Alih-alih melakukan pemutusan hubungan kerja secara terbuka, perusahaan memanfaatkan berbagai metode untuk menciptakan suasana yang tidak nyaman bagi karyawan.
Dengan cara ini, karyawan dapat merasa tertekan sedemikian rupa sehingga memilih untuk pergi dari perusahaan. Praktik semacam ini kian populer dan menjadi tren yang diadopsi oleh banyak organisasi besar di seluruh dunia.
Beberapa perusahaan bahkan menggunakan cara-cara halus untuk mengurangi jumlah karyawannya, akan tetapi dengan hasil yang tetap signifikan. Ini menyiratkan bahwa meskipun terlihat tidak kasat mata, dampak dari quiet cutting bisa sangat meluas.
Strategi Umum dalam Quiet Cutting yang Harus Diketahui
Salah satu pendekatan dalam quiet cutting adalah memisahkan karyawan dari rekan timnya. Hal ini dapat menimbulkan perasaan diasingkan, mengingat rekan kerja sering kali menjadi dukungan emosional yang penting. Perusahaan menyadari bahwa isolasi sosial dapat membuat karyawan merasa tidak nyaman sehingga cenderung keluar.
Pemisahan ini dapat berupa pengalihan tugas atau perubahan atasan yang tidak sesuai dengan gaya kerja karyawan. Misalnya, seorang karyawan bisa saja dipindahkan ke bawah atasan baru yang tidak mendukung, mengakibatkan karyawan mulai mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.
Dalam praktik ini, perusahaan tidak perlu mengumumkan pemutusan hubungan kerja, tetapi dampak dari pengucilan dapat menghasilkan hasil yang sama. Para karyawan yang tertekan lebih cenderung untuk mundur dari perusahaan tanpa mendapatkan pesangon.
Teknik Membuat Karyawan Merasa Kurang Kompeten
Selain memisahkan karyawan dari tim, cara lain yang umum digunakan adalah meningkatkan keraguan diri. Karyawan yang dipindahkan ke divisi baru biasanya akan menghadapi atasan yang keras dan kritis. Tekanan untuk mencapai standar tertentu menjadi sangat tinggi dan merusak rasa percaya diri.
Setiap kesalahan kecil menjadi perhatian besar, sedangkan kontribusi positif sering kali diabaikan. Dalam situasi ini, karyawan mulai mempertanyakan keterampilan dan kemampuan yang mereka miliki, mendorong mereka untuk mencari jalan keluar.
Dengan cara demikian, perusahaan menciptakan lingkungan yang penuh tekanan, sehingga karyawan merasa bahwa mereka tidak dianggap layak lagi untuk bekerja di perusahaan tersebut. Ini adalah strategi yang bersifat psikologis dan sangat merugikan bagi kesehatan mental individu.
Demosi Terselubung sebagai Salah Satu Taktik
Di sisi lain, perusahaan juga bisa menggunakan demosi halus sebagai strategi. Karyawan dapat dipindahkan ke posisi yang lebih rendah dengan pengurangan gaji dan tanggung jawab kerja yang kabur. Bagi sebagian orang, mungkin terasa seperti beban berkurang, tetapi bagi yang lain, ini adalah kondisi yang sangat menekan.
Ketidakjelasan peran dan minimnya tanggung jawab dapat menyebabkan kebingungan dan stres. Tanpa adanya tantangan, karyawan merasa terjebak dalam rutinitas dan kehilangan tujuan, akhirnya berujung pada keputusan untuk resign.
Praktik ini menunjukkan bagaimana perusahaan menggunakan demotivasi sebagai cara untuk mengurangi tenaga kerja tanpa mengumumkan pemutusan hubungan kerja. Dengan demikian, mereka tidak perlu menghadapi konsekuensi hukum yang mungkin muncul dari pemecatan resmi.
Langkah yang Bisa Diambil oleh Karyawan yang Menghadapi Quiet Cutting
Dalam menghadapi situasi seperti ini, penting bagi karyawan untuk tidak panik. Sebaiknya mereka menyadari bahwa mereka mungkin sedang didorong keluar, dan memanfaatkan waktu yang ada untuk merencanakan langkah selanjutnya. Melamar pekerjaan baru bisa menjadi opsi terbaik untuk menghindari situasi tidak nyaman ini.
Selain itu, karyawan bisa memanfaatkan waktu di luar jam kerja untuk menghadiri wawancara atau mencari peluang lain. Penting untuk memiliki rencana cadangan sebelum membuat keputusan sulit untuk mengundurkan diri.
Kesadaran yang baik dan perencanaan yang matang akan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari situasi kerja yang tidak sehat. Karyawan harus tetap fokus pada pengembangan diri dan mencari lingkungan kerja yang lebih mendukung dan produktif.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now









