Jejak Kehidupan di Kampung Zombie Saksi Kengerian Bertahan dari Banjir Jakarta
Table of content:
Julukan Kampung Zombie bukan sekadar istilah sensasional bagi deretan rumah di kawasan Cililitan, Jakarta Timur. Nama itu lahir dari pemandangan yang nyaris sureal, rumah-rumah yang tampak hidup di lantai atas, sementara bagian bawahnya mati—kosong, gelap, dipenuhi lumpur dan sisa banjir yang tak pernah benar-benar pergi.
Di bantaran sungai itu, kehidupan berjalan seperti makhluk yang bangkit dari genangan. Penghuninya beraktivitas di lantai dua atau tiga rumah, sementara lantai dasar dibiarkan membusuk oleh endapan tanah dan air.
Kampung ini sudah lama akrab dengan banjir kiriman dari Bogor, dan dari situlah identitas “zombie” melekat. Keunikan lingkungan ini tidak hanya menarik perhatian pejalan kaki, tetapi juga menjadi percakapan hangat di kalangan masyarakat sekitar.
Kehidupan Sehari-hari di Kampung Zombie yang Menantang
Pada pagi hari, suara riuh orang beraktivitas mengisi udara. Warga Kampung Zombie harus bersiap menghadapi tantangan setiap harinya, termasuk kebersihan lingkungan yang sering kali terabaikan.
Yudi, seorang pedagang bakso cuanki, sudah lebih dari setahun mengontrak rumah di kampung tersebut. Ia merasakan betul betapa proses jual beli di daerah ini tak semudah yang dibayangkan.
“Kalau di sini ada yang Rp300 ribu sampai Rp600 ribu per bulan. Saya sendiri Rp400 ribu,” kata Yudi sambil tersenyum getir. Di balik harga yang murah, ia harus menghadapi dampak banjir secara langsung.
Tarif Sewa yang Murah dan Tantangan yang Besar
Bagian yang paling menarik adalah perbandingan tarif sewa. Kontrakan dengan tarif rendah biasanya memiliki kamar mandi di luar rumah, dipakai bersama oleh lima hingga enam keluarga.
“Kalau yang Rp300 ribu sampai Rp400 ribu itu kamar mandinya di luar, jadi kalau mandi harus antre,” ujar Yudi, menjelaskan kondisi sehari-harinya. Harga yang terjangkau menjadi iming-iming bagi banyak orang yang datang mencari peruntungan di Jakarta.
Namun, ada juga kontrakan dengan tarif lebih tinggi, seperti yang berkisar antara Rp600 ribu sampai Rp1,2 juta, yang menawarkan fasilitas lebih baik, termasuk kamar mandi di dalam rumah. Ini menunjukkan adanya stratifikasi dalam segmen hunian di kawasan tersebut.
Dampak Banjir yang Menyengsarakan Warga Sekitar
Banjir adalah masalah utama yang dihadapi penghuni Kampung Zombie. Setiap musim hujan, mereka harus mengosongkan barang-barang berharga agar tidak terendam air.
Keberadaan sungai yang mengalir di dekat kampung menjadi sumber masalah yang tiada henti. Setiap tahun, air dari Bogor meluap, mengubah jalanan menjadi sungai sementara yang penuh lumpur.
Yudi menceritakan kekhawatirannya, “Penghasilan enggak jauh beda sama di Cikarang. Bedanya, di sini harus siap banjir.” Realita ini menunjukkan betapa sulitnya bagi mereka untuk bertahan hidup dalam kondisi yang seharusnya lebih baik di ibukota.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







