Daftar Negara yang Lakukan Redenominasi Mata Uang, Indonesia Menyusul
Table of content:
Isu redenominasi mata uang di Indonesia saat ini menjadi topik hangat. Meskipun rencana untuk menyederhanakan nominal Rupiah belum dapat dilaksanakan dalam waktu dekat, perdebatan mengenai hal ini terus berlangsung di kalangan masyarakat dan politisi.
Merujuk pada pernyataan Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, belum ada rencana untuk mengkaji kembali undang-undang terkait redenominasi dalam waktu dekat. Namun, isu ini telah masuk dalam daftar program legislasi nasional yang direncanakan untuk jangka panjang.
Said Abdullah juga menjelaskan bahwa pembahasan resmi mengenai redenominasi mungkin baru akan dilakukan pada tahun 2027. Penundaan ini dianggap penting untuk memberikan waktu bagi sosialisasi kepada masyarakat yang masih memiliki pemahaman terbatas terkait literasi keuangan.
Menelusuri Sejarah Redenominasi di Berbagai Negara
Penting bagi Indonesia untuk belajar dari pengalaman negara lain yang telah melakukan redenominasi mata uang. Salah satu contoh yang menonjol adalah Jerman, yang mengalami proses ini setelah Perang Dunia I dengan dampak yang signifikan pada ekonominya.
Sebelum perang, mata uang yang dipakai adalah Goldmark, yang didukung oleh cadangan emas. Namun, ketika perang berlangsung, pemerintah Jerman tidak lagi memiliki cadangan emas, sehingga Goldmark mengalami devaluasi dan digantikan oleh Papiermark, yang sangat rentan terhadap inflasi.
Inflasi di Jerman mencapai angka yang sangat ekstrem, di mana pada tahun 1923, nilai tukar mencapai 29.500%. Hal ini mengharuskan pemerintah untuk mencetak uang kertas dalam jumlah besar, hingga menciptakan pecahan 100 triliun mark yang pada saat itu sangat tidak berharga.
Kasus Hiperinflasi di Republik Tiongkok
Contoh lain yang mencolok adalah Republik Tiongkok pada tahun 1948-1949, yang juga mengalami hiperinflasi sebagai akibat dari perang dan ketidakstabilan politik. Uang lama terdepresiasi parah akibat pencetakan uang kertas yang masif untuk mendanai pengeluaran perang.
Pemerintah pada saat itu memperkenalkan yuan emas untuk menggantikan mata uang lama, dengan nilai tukar yang sangat tidak seimbang, yaitu 3.000.000 yuan lama sama dengan 1 yuan emas. Masyarakat diperintahkan untuk menukarkan aset berharga mereka, namun hal ini justru mengakibatkan kerugian bagi kelas menengah.
Kegagalan dalam pengelolaan pencetakan uang menyebabkan yuan emas juga menjadi rentan terhadap hiperinflasi. Terjadi lonjakan harga yang terus meningkat, meskipun pemerintah mencoba untuk menahan laju inflasi dengan berbagai kebijakan yang akhirnya tidak efektif.
Dampak Ekonomi dan Sosial dari Redenominasi
Proses redenominasi tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga memiliki implikasi sosial yang signifikan. Ketika nilai tukar mata uang mengalami perubahan drastis, masyarakat cenderung kehilangan kepercayaan pada sistem keuangan yang ada.
Situasi ini bisa menyebabkan ketidakstabilan sosial, di mana masyarakat dapat beralih ke alternatif lain seperti mata uang asing atau bentuk aset lainnya. Ketidakpastian ekonomis sering kali mengarah pada peningkatan ketidakpuasan sosial dan protes.
Maka dari itu, sebelum melakukan redenominasi, perlu adanya edukasi yang menyeluruh kepada masyarakat mengenai fungsi dan tujuan dari perubahan ini agar mereka tidak merasa dirugikan.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







